ANALISIS GANGGUAN MEMORI YANG DIAKIBATKAN KARENA STRES PADA LANSIA

1. Latar Belakang

Otak manusia terdiri dari dua bagian yaitu batang otak (brain stem)dan korteks selebral (cerebral cortex). Batang otak terdiri dari again-bagian yang dinamakan medulla, pons, otak tengah, dan cerebellum. Bagian-bagian ini terutama berkaitan dengan fungsi fisikal tubuh, termasuk pernafasan, detak jantung, gerakan, refleks, pencernaan, dan pemunculan emosi. Korteks serebral menangani fungsi-fungsi intelektual dan bahasa (Steinberg dkk, dalam Dardjowidjojo, 203:2005).

Memori tidak hanya satu macam. Penfield dan Roberts (dalam Dardjowidjojo, 274:2005) menyebutkan adanya memori pengalaman, memori konseptual, dan memori kata. Sementara itu Squire dan kandel (dalam Dardjowidjojo, 274:2005) membagi memori menjadi memori nondeklaratif dan memori deklaratif. Psikolog seperti William James (dalam Dardjowidjojo, 276:2005) membagi memori menajdi dua kelompok besar: memori pendek dan memori panjang. Memori pendek sering disebut short term memori (STM), sedangkan memori panjang disebut long term memori (LTM). Penelitian tentang otak dan perannya hingga saat ini mengalami kemajuan pesat. Istilah gangguan kognitif menandakan bahwa fitur dominan dari gangguan ada pada kemampuan-kemampuan kognitif seperti ingatan, atensi, persepsi, dan berpikir (Durand dan Barlow, 313:2007). Meskipun gangguan kognitif biasanya muncul untuk pertama kalinya pada masa dewasa lanjut, retardasi mental dan gangguan belajar yang muncul pada usia dini pun memiliki daya kognitif sebagai ciri primernya.

Otak manusia berbeda dengan komputer, meskipun analoginya memang mirip. Sama seperti komputer yang kita miliki, otak dipersenjatai dengan dua memori dasar: memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek bisa dianalogikan dengan RAM (Random-Access Memory). Informasi yang diterima oleh panca indera, menunggu di memori kerja ini, semacam play group mental yang kemudian menguapkannya dengan segera. Informasi baru tersimpan setelah terjadi proses perubahan kimia dan listrik pada sel-sel saraf atau neuron. Memori jangka pendek memungkinkan kita untuk membuat hitungan sederhana di kepala atau mengingat nomor telepon cukup lama, meskipun begitu selesai menelepon kita mungkin sudah lupa nomor itu. Jadi, sama seperti RAM, ia juga bisa menganalisis dan menyimpan informasi tanpa membuat rekaman yang abadi. Sedangkan memori jangka panjang bertindak sebagai hard drive, secara fisik menyimpan pengalaman yang telah lewat di daerah otak yang disebut cerebral cortex (kulit luar otak).

Cortex merupakan rumah bagi belukar 100 miliar neuron yang tampilannya mirip tumbuhan merambat.Komunikasi antarsel terjadi melalui pancaran impuls-impuls kimia dan listrik. Setiap kita merasakan sesuatu - pandangan, suara, ide – , simpuls unik dari sebagian sel-sel saraf tersebut langsung aktif. Kemudian sebagian ada yang tidak kembali ke bentuk asalnya karena mereka memperkuat koneksi satu dengan lainnya.

Konsekuensi gangguan kognitif seringkali melibatkan berbagai perubahan yang sangat berat pada perilaku dan kepribadian orang yang mengalamainya. Kecemasan dan atau depresi intens merupakan gejala yang lazim dijumapai, terutama di antara orang-orang yang mengalami demensia (Durand dan Barlow, 313:2007). Tujuan dari penulisan ini adalah untuk meninjau sepintas mengenai kemunduran daya ingat manusia –khususnya yang terjadi pada lansia– yang terjadi akibat adanya gangguan-gangguan kognitif seperti demensia (kepikunan).

Proses menua pada manusia merupakan suatu peristiwa alamiah yang tak terhindarkan, dan menjadi manusia lanjut usia ( lansia ) yang sehat merupakan suatu rahmat. Pendapat didalam kehidupan sosial masyarakat kita, predikat usia lanjut seseorang sering dikonotasikan kepada hal-hal seperti berikut : Orang yang sudah mulai menurun kemampuan produktivitas dan aktivitas fisik sudah layak pensiun dari kegiatan pekerjaan, pantas untuk dimanjakan, cukup menunggui cucu di rumah atau mengantar cucu sekolah, harus dihormati untuk dimintai nasehat, pandangan dan pemikirannya lebih arif dan bijak, makin pikun, berlaku otoriter terhadap anak, sulit menyesuaikan diri dengan perubahan, makin meningkatkan kegiatan ibadah agamanya, kemunduran fungsi organik tubuh dan lain sebagainya. Timbulnya pernyataan tersebut diatas sudah tentu mempunyai latar belakang alasan tersendiri seperti kultural masyarakat, medik, falsafah kehidupan seseorang, sistem hukum serta administrasi negara dan lain sebagainya.

Memori merupakan bagian integral dari eksistensi manusia (Darjowidjojo, 269:2005). Kita tidak bisa membayangkan seperti apa manusia itu bila kita tidak dapat mengingat masa lalu, tidak dapat memasukkan informasi yang baru saja kita dengar, dan tidak dapat mengingat apa yang akan kita lakukan besok. Sebagian besar dari apa yang kita ketahui dari dunia ini bukan berasal dari saat kita lahir, tetapi kita peroleh dari pengalaman yang tersimpan dalam memori.

2. Teori

Lupa dimana meletakkan sesuatu, lupa nama seseorang, lupa mematikan kompor saat memasak. Mungkin ini hanya sebagian dari ‘daftar’ lupa yang kerap menghinggapi para lansia. Banyak orang beranggapan bahwa pikun (demensia) merupakan bagian dari proses menua, sehingga wajar dialami oleh orang usia lanjut. Namun sebenarnya tidak semua usia lanjut akan mengalami demensia, dan demensia biasanya menjadi semakin parah karena seringkali tidak terdeteksi sehingga terlambat ditangani.

Bila dibiarkan, demensia dapat menyebabkan seseorang menjadi tergantung pada orang lain, kehilangan saat berharga dengan keluarga, dan bila disertai dengan gangguan perilaku dapat meningkatkan stres bagi keluarga maupun orang yang merawatnya. Belum lagi tingginya biaya perawatan yang harus dikeluarkan untuk merawat lansia yang mengalami dimensia.

Gejala demensia biasanya memang tidak disadari oleh individu bersangkutan, justru orang-orang di sekitarnya yang kerap terganggu karena sifat pelupa tersebut. Terdapat beberapa gejala demensia yang sebaiknya Anda waspadai, yaitu:

1. Sering lupa nama, nomor telepon, atau tugas, dan tidak dapat mengingatnya kembali.

2. Sulit merencanakan dan menyelesaikan tugas harian. Misalnya memasak namun lupa mematikan kompor.

3. Lupa kata-kata sederhana atau menggunakan kata secara tidak tepat sehingga sulit dimengerti.

4. Tersesat di lingkungan sendiri, tidak ingat jalan pulang dan tidak mengenali lokasi tempatnya berada.

5. Berpakaian tidak sesuai dengan lingkungan.

6. Sulit menghitung, lupa kegunaan dan sulit berpikir abstrak.

7. Meletakkan barang di tempat yang tidak sesuai, misalnya kacamata di lemari pendingin atau meletakkan kunci di tempat gula.

8. Sering berubah suasana hati dengan cepat tanpa sebab.

9. Mengalami perubahan kepribadian, misalnya mudah curiga, takut dan bingung.

10. Kehilangan inisiatif untuk beraktivitas, lebih suka tidur berlama-lama atau menonton televisi.

Hanya ada beberapa hal lain yang lebih menakutkan bila dibandingkan dengan kemungkinan bahwa suatu saat nanti Anda tidak mampu mengenali lagi orang-orang yang Anda Cintai, anda tidak mampu lagi melakukan tugas-tugas yang paling dasar seklaipun, dan yang lebih buruk lagi, Anda secara akut menyadari kegagalan-kegagalan saat ini. Demensia adalah gangguan kognitif yangmemebuat ketakutan-ketakutan tadi terwujud: kemunduran fungsi otak yang terjadi secara gradual, yang memengaruhi judgment (penilaian), ingatan, bahasa, dan proses-proses kognitif lainnya (Durand dan Barlow, 316:2007).

Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer. Demensia Alzheimer berlangsung progresif, gangguan yang tidak dapat membaik yang menyerang otak dan akibatnya kehilangan daya ingat, kebingungan, gangguan penilaian dan perubahan kepribadian. Penyakit ini adalah penyebab yang paling umum dari gangguan intelektual yang berat pada orang lanjut usia dan kenyataannya merupakan suatu masalah dalam perawatan orang usia lanjut di rumah.

3. Analisis Kasus

Obrolan nenek dengan cucu keponakan

Percakapan 1:

Nenek : Kamu siapa?

CK : Saya Uus mbah uti (mbah putri), anaknya pak Hasan dari Sumatera! Yang kuliah di Malang.

Nenek : (masih berpikir sambil terus memandangi cucu).

CK : Pak Hasan anaknya almarhum mbah Yasin.

Nenek : oo.. walah, Hasan-ku to? Sini masuk

CK : iya mbah terima kasih…

(akhirnya mereka mengobrol)

Disela-sela percakapan si nenek bertanya

Percakapan 2:

Nenek : ayahmu munaf, kapan ke sini?

CK : Hasan, mbah uti, ayah saya namanya Hasan.

Nenek : o iyo, lali aku! Kapan kesini?

Itu sekelumit obrolan nenek dengan cucunya, si nenek memang sudah agak pikun, dia tidak ingat berapa umurnya sekarang. Menurut informasi dari anaknya usianya sekitar 68 tahun. Obrolan tersebut terjadi ketika si cucu datang bersilaturahmi ke rumahnya 1 tahun yang lalu. Menurut informasi dari anaknya, si nenek mulai pikun sejak ia mengalami stress akibat kelakuan menantunya. Menantunya menjual sapi peliharaannya, padahal sapi itu adalah peninggalan dari suaminya, yang akan diberikan kepada cucunya kelak. Sejak saat itu si nenek sering marah-marah, terkadang melamun, kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi, cemas, curiga, mengalami gangguan tidur, keluyuran, bahkan kesulitan mengenali keluarga dan teman. Beliau secara fisik sehat, tidak pernah ke dokter, tidak pernah ada keluhan, dan bisa jalan sendiri. Dahulunya si nenek merupakan orang yang penyabar, suka bekerja keras, dan tidak mudah marah, namun sejak kejadian itu ia mulai berubah.

Percapakan 1 menunjukkan si nenek mengalami proses berpikir, ia mencoba mengingat-ingat kembali orang yang di hadapannya dengan cara melihat/mengamati wajahnya. Ketika berpikir, otak melakukan pengulangan informasi di dalam ingatan atau dapat juga disebut aktivitas mengingat-ingat kembali apa yang baru saja diterima oleh pikiran (rehearsal). Penggalian informasi pada tingkat yang lebih dalam tersebut kemudian meningkatkan kinerja penggalian kembali informasi di dalam ingatan (recall). Hal ini disebabkan karena si nenek melihat ada karakteristik yang menonjol (di dalam memorinya) dan pada akhirnya informasi yang baru diterima, seperti pada kalimat anaknya pak Hasan dari Sumatera! Yang kuliah di Malang” dan “Pak Hasan anaknya almarhum mbah Yasin”, kemudian diproses melalui pencatatan indera menuju ingatan jangka panjang (long term memori) dan dia mulai mengingat siapa Hasan, dan dia mulai merasa pernah melihat cucu yang ada di depannya.

Skemata si nenek mengenai Hasan sangat membantu pengulangan informasi yang dilakukan oleh memori jangka panjang (long term memory). Memori jangka panjang mencoba menggali informasi yang ada di dalam otak. Ketika hal tersebut terjadi, memori jangka panjang merasa pernah mengenali informasi tersebut sebelumnya. Oleh karena itu otak si nenek tidak terlalu mengalami kesulitan dalam mengenai objek yang dibicarakan.

Pada percakapan 2, si nenek mulai lupa lagi dengan cucu yang ada di depannya dengan bukti pada kalimat: Ayahmu Munaf, kapan ke sini?, padahal si cucu sudah mengatakan bahwa ayahnya adalah Hasan beberapa menit yang lalu. Munaf adalah nama kakak dari Hasan yang sering mengunjunginya yang rumahnya juga ada di Sumatera. Mengapa si nenek bisa lupa? Hal ini bisa saja terjadi karena adanya gangguan pengenalan (disorientasi waktu, tempat, orang), karena pada normalnya, orang tua dapat lupa nama, tempat, atau tanggal, terdapat gangguan dalam mengingat kembali (recall).

Banyak faktor yang berkontribusi dalam kehilangan memori pada lansia,diantaranya stres atau krisis, depresi, perasaan tidak berharga, kehilangan interes pada kegiatan-kegiatan, perubahan serebrovaskuler yang berpengaruh pada fungsi serebral, hilangnya sel saraf dikarenakan penyakit atau trauma, dan penurunan sensori atau isolasi sosial. Kerusakan memori bisa disebabkan penurunan penglihatan atau pendengaran. Pada kasus nenek tersebut dapat kita lihat bahwa nenek mengelami penurunan daya ingatnya dikarenakan stress atau trauma.

Stres yang dialami si nenek menyebabkan memori jangka panjang dan jangka pendeknya terganggu. Memorinya mulai mengalami kesukaran dalam penggalian informasi, akibatnya ia menjadi lebih mudah lupa mengenali informasi baik informasi lama maupun informasi baru.

Selanjutnya kita lihat perkembangan kognitif nenek setelah beberapa bulan kemudian:

Percakapan 3:

Nenek : Nurul, tolong ambilkan saya makan!

Nurul : lho… Ibu ini bagaimana sih! Ibu kan baru saja makan, belum ada setengah jam yang lalu!

Nenek : Mosok to???...

Percakapan ketiga adalah percakapan antara anak dengan nenek yang sama. Si nenek minta makan, padahal piring yang digunakan untuk makan tadi masih ada di depannya. Lansia yang mengalami kerusakan kognitif sering menentang jawaban dari orang lain. Mereka tidak mengerti apa yang ditanyakan pada mereka atau mereka menjadi takut pada perubahan aktivitas yang tidak dapat diprediksi.

Melihat perkembangan kognitif si nenek, dapat kita analisis bahwa si nenek mengalami penurunan ingatan atau penyakit kepikunan (demensia) dimana terjadi penurunan daya ingat, gangguan ingatan, pikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian, dengan melihat ciri-ciri dan sifat umum penderita kepikunan (demensia).

Kepikunan ternyata merupakan penyakit keturunan. Telah diadakan penelitian bahwa kepikunan dapat disebabkan oleh faktor genetik; selain bertambahnya usia seseorang yang memang mengakibatkan fungsi otak mengalami penurunan secara normal. Kepikunan adalah suatu hal yang wajar. Akan tetapi hal yang wajar ini dapat berubah menjadi suatu hal yang “tidak wajar”. Inilah yang disebut sebagai demensia. Demensia atau pikun merupakan salah satu gejala sisa stroke. Demensia pasca stroke sering disebut dengan demensia vaskuler.

Kehilangan memori pada lansia merupakan hal yang membuat stres dan frustasi. Walaupun kehilangan memori bisa disebabkan penyakit otak organik atau depresi, semua hal itu tidak ada hubungannya dengan proses penyakit. Seiring bertambahnya usia, kehilangan short-term memory (mengingat kejadian yang baru saja terjadi) lebih sering terjadi daripada kehilangan long-term memory (mengingat kejadian yang dulu).

Lupa pada usia lanjut bukan merupakan pertanda dari demensia maupun penyakit Alzheimer stadium awal. Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang lebih serius, yang makin lama makin parah. Pada penuaan normal, seseorang bisa lupa akan hal-hal yang detil; tetapi penderita demensia bisa lupa akan keseluruhan peristiwa yang baru saja terjadi. Begitu juga dengan apa yang dialami oleh si nenek. Setahun yang lalu ingatannya masih sedikit lebih baik, namun bebrapa bulan kemudia ia mengalami penurunan daya ingat yang sangat drastis (bahkan ia lupa dengan peristiwa apa yang baru saja dialaminya).

Demensia yang disebabkan oleh Alzheimer, berarti demesia yang disertai oleh perubahan patologis di otak penderitanya. Waktu penyebaran penyakit Alzheimer pada seseorang bervariasi mulai dari 5 hingga 20 tahun, dan kematian yang terjadi seringkali disebabkan karena infeksi.

Faktor resiko utama seseorang mengidap Alzheimer adalah usia, yaitu semakin tua usia seseorang (khususnya setelah usia 65 tahun) maka semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Menurut National Alzheimer’s Association (2003), penyakit Alzheimer menyerang hingga 10 % dari orang berusia 65 tahun atau lebih, dan secara berangsur proporsi ini berlipat ganda setiap 10 tahun setelah usia 65 tahun. Dan sebanyak separuh dari populasi yang berusia 85 tahun atau lebih dapat dipastikan mengidap Alzheimer. Sementara, pada orang yang memiliki faktor genetik turunan / bawaan dari orang tua, penyakit ini akan menyerang di bawah usia 65 tahun. Namun, kasus seperti ini cukup jarang ditemukan.

Alzheimer dapat disebabkan karena faktor genetik dan faktor non genetik. Pada orang yang terkena Alzheimer karena faktor genetik (bawaan orang tua), mereka mengidap Alzheimer di bawah usia 65 tahun atau usia muda. Namun pada orang yang terkena Alzheimer akibat faktor non genetik, terutama yang paling banyak berpengaruh adalah faktor usia, maka semakin tua usia seseorang (khususnya di atas 65 tahun) akan semakin rentan orang tersebut mengidap Alzheimer. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, kasus penderita Alzheimer di bawah usia 65 tahun karena faktor genetik (bawaan orang tua) sangat jarang ditemukan, sementara yang seringkali / banyak ditemukan adalah kasus penderita Alzheimer di atas usia 65 tahun.

Gangguan kognitif yang dialami oleh si nenek dapat kita lihat dengan ciri-ciri yang terdapat pada tabel berikut:

Alzheimer

Nenek

Hasil

1. Alzheimer dapat disebabkan karena faktor genetik dan non-genetik (terutama faktor usia)

1. Nenek menderita demensia Alzheimer karena faktor non genetik

V (sama)

2. Orang yang menderita Alzheimer mengalami perubahan kepribadian menjadi benar-benar kacau, penuh curiga, takut atau menjadi bergantung pada keluarga, serta memunculkan mood yang tidak tentu (seperti: takut kemudian marah tanpa ada alasan yang jelas)

2. Nenek mengalami perubahan kepribadian dari yang penyabar dan selalu dapat mengontrol segala tingkah laku dan emosinya, menjadi sangat emosional, curiga, keras hati, dan keras kepala.

V (sama)

3. Lupa secara bertahap mulai dari yang paling jarang ditemui hingga yang cukup sering ditemui. Lupa dengan apa yang baru saja dikerjakannya

3. Nenek lupa kalau dia baru selesai makan, tetapi dia minta makan lagi

X (sama)

4. Lupa lebih sering terhadap informasi yang baru dipelajari, seperti: nama ayah yang baru disebutkan oleh si cucu.

4. Nenek lupa kalau si cucu sudah menyebutkan nama ayahnya

X (sama)

5. lupa yang bersifat: progresif dan permanen. Progresif berarti semakin lama semakin memburuk. Permanen berarti jika sudah lupa akan orang-orang tertentu maka dia tidak akan bisa tiba-tiba teringat kembali

5. Nenek sesekali mampu mengingat kembali akan Hasan dan Munaf, dan kerjaannya kemudian lupa lagi, dan ketika sedang mampu mengingat, Nenek sadar bahwa dirinya sedang menderita penyakit kepikunan (demensia).

X (tidak sama)

6. Tersesat di daerah sekitar rumahnya sendiri/daerah yang dikenalnya dengan baik.

6. Nenek pernah tersesat di kebun belakang rumahnya sendiri, padahal kebun itu sangat dikenalinya dengan baik

X (sama)

5. Pada tahap gejala menengah, seseorang sudah kehilangan kemampuan dasar untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti: berbicara, makan, mandi, buang air kecil, buang air besar, berpakaian, dll.

5. Nenek yang sudah mengalami perubahan kepribadian, dan lupa pada keluarga menunjukkan bahwa dirinya sudah memasuki Alzheimer gejala menengah. Namun Nenek tidak menampakkan adanya kehilangan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

X (tidak sama)

Untuk dapat menilai suatu penyakit termasuk kategori penyakit A, maka seluruh gejala penyakit A harus terpenuhi pada penyakit tersebut. Jika hanya sekedar mirip atau ada sedikit kesamaan maka belum dapat dikatakan bahwa penyakit tersebut adalah benar penyakit A. Melainkan harus ditelusuri lebih jauh termasuk dalam kategori penyakit yang manakah penyakit tersebut. Dari paparan bagan di atas, kita dapat melihat bahwa tidak seluruhnya terjadi kesamaan antara gejala penyakit yang nenek alami dengan gejala-gejala Alzheimer. Jadi belum sepenuhnya nenek tersebut dikategorikan menderita penyakit Alzheimer.

Baik gejala-gejala Alzheimer maupun gejala-gejala dari penyakit yang dialami nenek, keduanya sama-sama merupakan penyakit lupa. Namun penyakit lupa pun memiliki berbagai kategori, ada yang bisa dikategorikan sebagai Alzheimer dan ada yang dikategorikan sebagai penyakit lupa lainnya, seperti amnesia dan delirium.

Pada penyakit Alzheimer, lupa yang terjadi benar-benar berhubungan dengan kerusakan pada sistem syaraf otak. Sementara pada amnesia dan delirium, yang terjadi adalah lebih disebabkan karena faktor psikologis, seperti kognitif fisik, ketakutan / kecemasan yang berlebihan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah: baik kognitif fisik, ketakutan/kecemasan yang berlebihan tidak selalu menyebabkan amnesia. Sebagai contoh, pada film “meteor garden II, Tao ming se” mengalami amnesia karena kognitif fisik akibat kecelakaan mobil, kognitif fisik adalah merupakan faktor psikologis. Namun secara medis, Tao ming se tidak mengalami kerusakan pada syaraf otak atau fungsi tubuh/fisik lainnya yang dapat menyebabkannya lupa ingatan. Contoh ini menggambarkan bagaimana amnesia disebabkan karena faktor psikologis.

Secara kasat mata, mungkin Alzheimer dan Amnesia nampak sama, namun jika diperhatikan dengan detail maka gejalanya akan nampak berbeda. Yang membedakan secara jelas, adalah: pada Alzheimer, kemunduran fungsi kognitif / ingatan berlangsung perlahan-lahan / secara bertahap namun bersifat progresif / semakin memburuk, dan hingga saat ini belum dapat disembuhkan; sementara pada amnesia, ingatan yang ada dapat hilang dalam waktu singkat dan sangat drastis, melupakan masa lalu / masa sebelum dia mengalami kecelakaan (tidak bertahap), masih dapat disembuhkan. Di samping amnesia, ada juga penyakit lupa yang disebut delirium, pada delirium, gangguan ingatan muncul karena faktor psikologis juga, seperti kecemasan/ketakutan yang berlebihan (biasanya berhubungan dengan pemakaian obat-obatan/zat terlarang), dan dapat juga disebabkan karena kognitif, namun perbedaan yang benar-benar jelas dengan amnesia adalah delirium, pada delirium terjadi gangguan kesadaran dan perubahan kognisi (namun tidak sampai pada gangguan ingatan), terjadi dalam waktu singkat (biasanya dalam hitungan jam hingga hari) dan cenderung berfluktuasi (muncul dan hilang). Delirium dapat disembuhkan ( American Psychiatric Association, 1995).

Alzheimer Demensia

Amnesia

Delirium

Fisiologis (saraf otak)

Psikologis

Psikologis

Gangguan memori/ingatan

Gangguan memori/ingatan

Gangguan kesadaran dan gangguan kognitif

Berlangsung bertahap dan bersifat progresif

Tidak bertahap, berlangsung secara drastis

Berlangsung secara short time

Permanen

Semi permanen

Fluktuatif

Belum dapat disembuhkan

Dapat disembuhkan

Dapat disembuhkan

Namun yang perlu digaris bawahi disini adalah: kognitif, dan kecemasan/ketakutan tidak selalu menyebabkan Amnesia ataupun delirium. Jadi jangan mudah juga men-cap suatu penyakit sebagai penyakit A atau B, tanpa memiliki dasar pemahaman yang kuat mengenai penyakit tersebut.

4. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa,

ü Gangguan memori baik itu jangka panjang maupun jangka pendek bisa terjadi karena beberapa faktor. Pada lansia umumnya terjadi karena faktor usia, namun ada juga yang terjadi karena stress ataupun depresi.

ü Si nenek mengalami gangguan kognitif berupa kemunduran daya ingat.

ü Memori jangka panjang (long term memory) dan memori jangka pendek (short term memory) si nenek awalnya baik-baik saja. Namun pada akhirnya ia mulai mengalami kesulitan dalam mengingat ketika dia merasakan ada yang mengganggu di dalam otaknya (stress).

ü Penyebab kemunduran daya ingatnya tersebut akibat stres yang pernah dialaminya.

ü Pada tahap awal, si nenek belum menampakkan kepikunananya, kondisi tubuhnya masih sehat, masih mampu mengingat walaupun dengan memberikan stimulus pada otaknya (clue).

ü Pada tahun-tahun berikutnya, si nenek mengalami penurunan daya ingat. Beliau diperkirakan mengalami penyakit demensia Alzheimer, namun belum sampai titik akut.


1 Response to "ANALISIS GANGGUAN MEMORI YANG DIAKIBATKAN KARENA STRES PADA LANSIA"

  1. Anonim Says:
    21 Oktober 2012 18.12

    Ni daftar pstakanya apa jj ya?

Poskan Komentar